Shot dan Reverse Shot

0


Apa itu shot/reverse-shot? Hampir semua film yang menghadirkan tokoh lebih dari satu pasti memiliki sekuen atau adegan yang mempertemukan para tokoh dalam suatu tempat, entah itu bercengkrama satu sama lain, beradu argumen, atau paling tidak saling bertatap muka. Misal ada dua tokoh (tokoh A dan tokoh B) saling berbicara satu sama lain di ruang tamu, pengambilan gambar yang setidaknya paling standar digunakan adalah two-shot yang menampilkan kedua tokoh sekaligus dalam satu frame. Hal ini berguna agar penonton mengetahui latar tempat atau jarak kedua tokoh itu saat berbicara.

Namun, kemajuan industri film menyadari bahwa penggunaan two-shot ini perlahan akan membuat penonton cepat bosan karena tidak adanya sentuhan-sentuhan gambar yang mempengaruhi psikologis penonton untuk masuk ke dalam interaksi antar tokoh yang disajikan. Para pekerja film juga menyadari bahwa mereka dapat mendorong tempo film dengan mengubah sudut pandang kamera dengan cepat di suatu momen, yang berujung pada lahirnya teknik penyuntingan gambar bernama reverse shot. Jenis penyuntingan gambar satu ini untuk mengatasi kebosanan atau gagalnya menyampaikan emosi kepada penonton seperti yang disebutkan sebelumnya.

Pada dasarnya, shot/reverse-shot, juga dikenal dengan shot/counter-shot menampilkan sudut pandang yang berbalik dari yang ditampilkan pertama kali, namun masih dalam situasi atau adegan yang berlokasi di latar tempat yang sama. Contohnya seperti dua tokoh yang disebutkan tadi, dalam tampilan pertama, kamera membidik tokoh A dengan pengambilan medium close up + over-the shoulder atau extreme close up (terserah pembuat film, karena yang terpenting adalah menampilkan suatu tokoh yang berpapasan langsung dengan tokoh lain), sedang berbicara di depan tokoh B. Lalu sudut pandang berubah ke tokoh B yang membalas perkataan tokoh A. Sederhananya, kebalikan sudut pandang antara subjek dan objek. 

Shot/reverse-shot memberi perasaan kepada penonton bahwa suatu adegan merupakan sebuah aksi yang berkelanjutan, yang membuat mereka merasa jika adegan tersebut terjadi secara linear dalam waktu normal. Dan sekarang teknik shot/reverse-shot ini menjadi salah satu yang paling umum digunakan dalam film, namun untuk menambah kreativitas, tentunya shot reverse-shot bisa diaplikasikan ke dalam beberapa situasi adegan.

1. Menekankan situasi adegan dengan tampilan ekspresi yang jelas antar tokoh

Dalam film No Country for Old Men (2007), ada sebuah adegan ikonik yang menampilkan interaksi tokoh antagonis Anton Chigurh dengan seorang penjaga toko berumur 50-an. Dalam adegan itu, Anton Chigurh yang merupakan pembunuh berdarah dingin sedang mencoba untuk mengintimidasi penjaga toko dengan menanyakan hal-hal basa-basi yang membuat si penjaga tokoh bingung dan merasa aneh. Perpindahan sudut pandang kamera berhasil menyalurkan reaksi kedua tokoh saat berinteraksi, yang mana Anton Chigurh dengan ekspresi dinginnya, yang di dalam dirinya ada keinginan untuk membunuh, dan si penjaga toko memberi reaksi kebingungan atas apa yang akan dilakukan oleh Anton kepadanya karena rasa kecurigaannya semakin tinggi.

2. Efektif dalam konversasi tokoh tunggal

Ingat adegan ketika karakter antagonis Norman Osbourne dalam film Spider- Man (2002) melihat alter-ego dirinya yang berupa karakter jahat Green Goblin di dalam refleksi cermin? Ya, itu adalah salah satu cara kreatif untuk menyajikan percakapan suatu tokoh tunggal dengan imajinasi dirinya sendiri. Dari sana Norman baru mengetahui sekaligus membocorkan bahwa ada suatu karakter jahat yang tersimpan di dalam dirinya yang berwibawa itu setelah rasa penasarannya terhadap suara-suara bernada jahat yang terus menghantui pikirannya.

3. Mengganti frame tanpa memindahkan kamera

Salah satu scene yang populer dari film The Wolf of Wall Street (2013) , mempertemukan Jordan Belfort dengan Mark Hanna. Sang sutradara, Martin Scorsese membuat teknik shot reverse-shot sederhana dengan menaruh beberapa kamera dan membiarkan para aktor untuk berdialog secara lembut tanpa adanya dollying.

4. Menampilkan adegan kekerasan tanpa memberi efek khusus yang detail

Sutradara film Scarface (1983), Brian De Palma mengakali rating ‘X’ pada film ini dengan meminimalisir tampilan kekerasan yang detail dengan menggunakan kombinasi sudut pandang Cuts-In untuk memperlihatkan objek berupa gergaji mesin yang disodorkan ke badan rekan Tony Montana dan Extreme Close-Up menunjukkan ekspresi orang yang diserang dengan gergaji mesin tersebut. Hal ini membuat penonton tidak benar-benar melihat kekerasan di layar.

Ketika ingin membuat storyboard film, adegan dialog harus disusun dengan matang dan strategis, karena over-the-shoulder saja tidak cukup. Salah satu yang harus diperhatikan adalah bagaimana sang sutradara menangkap adegan dialog atau interaksi, agar penonton dapat memahami tentang emosi dan situasi dalam sebuah adegan.

Oleh: M. Adine Wirya Kusuma


Sumber
Paul, J. 2016. How to Compose a Cinematic Shot Reverse Shot. Premium Beat. Sumber:premiumbeat.com/blog/cinematic-shot-reverse-shot/
Lannom, SC. 2019. Shot Reverse Shot: Reaction Shots, Cutaways, and Coverage. Studio Binder. Sumber: studiobinder.com/blog/shot-reverse-shot-cutaways-coverage
Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !